Indonesia
ini sepertinya adalah negara yang sangat lucu. Minggu ini di Medan
diadakan Pekan Flori dan Flora Nasional, alias pameran pertanian. Yang
meresmikan menteri pertanian. Tapi yang jadi peserta pameran umumnya
bukan petani, pengunjung pameran juga umumnya bukan petani. Lalu apa
manfaat acara semahal ini untuk para petani?
Setali tiga uang dengan itu adalah nasib sekolah pertanian kita. Dari Sabang sampai Merauke ada puluhan (mungkin ratusan malah) berdiri sekolah pertanian, mulai dari tingkat SMK sampai perguruan tinggi. Semua sekolah pertanian tsb menyedot dana ratusan milyar (atau mungkin trilyun) untuk pembiyaannya. Tapi yang bersekolah di sekolah pertanian bukanlah petani, dan yang lulus dari sanapun kemudian tidak mau jadi petani. Pertanyaannya, sebandingkah biaya mengelola sekolah pertanian itu dengan kontribusinya pada nasib petani dan dunia pertanian kita? Untuk apa membiayai pameran pertanian dan sekolah pertanian bila petani itu sendiri tak mendapatkan manfaatnya secara langsung?
Setali tiga uang dengan itu adalah nasib sekolah pertanian kita. Dari Sabang sampai Merauke ada puluhan (mungkin ratusan malah) berdiri sekolah pertanian, mulai dari tingkat SMK sampai perguruan tinggi. Semua sekolah pertanian tsb menyedot dana ratusan milyar (atau mungkin trilyun) untuk pembiyaannya. Tapi yang bersekolah di sekolah pertanian bukanlah petani, dan yang lulus dari sanapun kemudian tidak mau jadi petani. Pertanyaannya, sebandingkah biaya mengelola sekolah pertanian itu dengan kontribusinya pada nasib petani dan dunia pertanian kita? Untuk apa membiayai pameran pertanian dan sekolah pertanian bila petani itu sendiri tak mendapatkan manfaatnya secara langsung?
Realistiskah ide membuat pameran pertanian yang pesertanya adalah
petani? Realistiskah membangun sekolah pertanian yang siswanya adalah
para petani? Gua akap kena aron?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar