Selasa, 26 Juni 2012

Sinopsis Singkat Opera

Opera diawali dengan latar belakang suasana perkampungan Bakkara, markas Sisngamangaraja XII, mencekam. Sang Raja tampak gusar menanti berita peperangan. Pasukan Belanda (Si Bottar Mata) sudah memasuki Tapanuli, bahkan sudah mendekat ke Bakkara. Maka, Raja pun memanggil Raja Bius dan Datu Salenggam Banua untuk mengadakan ritual, memohon petunjuk dari Mulajadi Na Bolon. Tortor dan gondang pun digelar.

Keadaan pun kian genting. Raja bersama pasukannya, terjun ke hutan-hutan untuk berperang melawan Belanda. Namun, di tengah gencarnya pertempuran, muncul para pengkhianat (parjehe), seperti Ompu Somahap Doli dan Ompu Somahap Boru, yang sering memberikan informasi kepada Belanda tentang Raja dan strategi perangnya. Para pengkhianat ini akhirnya mati di tangan Ompu Jumorlang dan Sarbut Mataniari, dua pejuang setia Sisingamangaraja XII.

Pada saat yang lain, di Kantor Kompeni, Balige, Kapten Hans Christoffel sibuk melatih pasukan dan mengatur strategi pengepungan. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk membujuk para tawanan (pasukan Sisingamangaraja yang tertangkap) agar memberitahukan keberadaan Raja dan strategi perangnya.

Perang Batak berkobar hampir 30 tahun. Pasukan Belanda terus bertambah banyak, ingin segera menangkap Sisingamangaraja XII. Namun, ternyata tidak mudah. Sang Raja – bersama pasukannya, termasuk dari Aceh dan Minangkabau - terus melawan dan setiap kali berhasil lolos dari sergapan Belanda. Taktik perang gerilya yang dimainkan Raja jelas sangat menyulitkan Belanda. Selama perang, Raja bersama keluarga dan pasukannya terus mengungsi dari satu tempat ke tempat lain, hingga akhirnya sampai ke Si Onom Hudon, Parlilitan (Dairi Kelasen), markasnya yang kedua.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Suatu ketika, di pengungsian, selendang Boru Lopian tertinggal. Inilah yang menjadi petunjuk awal keberadaan Sisingamangaraja XII. Tragedi pengepungan pun dilakukan. Hamisi berhasil menghunjamkan tembakan bertubi-tubi ke arah persembunyian mereka. Srikandi Boru Lopian pun tertembak. Raja (yang terkenal sakti dan kebal peluru) segera memeluk putri kesayangannya yang bersimbah darah, dan inilah yang akhir perjuangannya yang panjang.

Sebelum wafat, ia masih sempat berucap: AHU SISINGAMANGARAJA. Aku tak kan gentar atau lari dari jalan hidupku, membebaskan Tanah Batak dari cengkeraman kekuasaan dan perbudakan kompeni Belanda. Bersama dia, gugur pula dua orang putranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, dan beberapa pasukan Batak lainnya.

Sebuah pertunjukan berkualitas, yang amat layak ditonton. Maka, dukung terus “Opera Batak Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII” di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Catat tanggal mainnya: 6 dan 7 Juli 2012. Dengan menyaksikan opera ini, berarti Anda turut melestarikan warisan budaya Batak. Kalau bukan kita yang menghargai pahlawan kita, lantas siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar